Jumat, 05 Juni 2020

Ringkasan Buku "Muhammad: Dari Kelahiran hingga detik-detik terakhir" karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri. Part 1


Jual Buku Sirah Nabawiyah | Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury ...
Judul Buku : Muhammad: Dari Kelahiran hingga detik-detik Terakhir
Penulis        : Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri

Nasab dan keluarga beliau

  • Nasab Nabi
    Pertama, yang disepakati oleh Ahlus Siyar wal Ansab (para sejarawan dan ahli nasab); yaitu urutan nasab beliau hongga kepada Adnan.
Kedua, yang masih diperselisihkan, yaitu urutan nasab beliau dari atas Adnan hingga Ibrahim.
Ketiga, yang tidak diragukan lagi ada riwayat yang tidak shahih, yaitu urutan nasab beliau dari Ibrahim sampai Adam.

  • Keluarga Besar Nabi
1. Hasyim
    Hasyimlah orang yang bertindak sebagai penanggung jawab atas penyediaan air minum (siqayah) dan penyediaan makanan (rifadah) untuk jama'ah haji dari keluarga Abdi Manaf. Hasyim dikenal sebagai bangsawan besar. Nama aslinya adalah Amr. Adapun kenapa dia dinamakan Hsyim, hal ini dikarenakan pekerjaannya yang meremuk-remukkan roti untuk ats-tsarid (semacam roti yang diremuk-remuk dan disiram kuah. Ini merupakan makanan yang paling mewah di kalangan mereka.

2. Abdul Muthalib
    Ketika Syaibah alias Abdul Muthalib, menginjak usia 7 atau 8 tahun lebih, al-Muthalib mendengar berita tentang dirinya, lantas pergi mencarinya. Ketika bertemu dan melihatnya, berlinanglah air mata al-Muthalib. Pamannya al-Muthalib kemudian meminta agar merelakan keponakannya tersebut pergi bersamanya, tetapi ibunya menolak permintaan tersebut. Al-Muthalib bertutur "Sesungguhnya dia akan berangkat menuju tahta ayahnya Hasyim, menuju tanah haram" barulah ibunya mengizinkan.

    Al-Muthalib membawanya ke Mekah dengan memboncengnya di atas unta. Melihat itu orang-orang berteriak " Ini adalah budak (abdul) Muthalib!" (mereka sangka anak itu adalah budaknya, bukan keponakannya.) Al-Muthalib memotong "Celakalah kalian! Dia ini adalah anak saudaraku, Hasyim." Abdul Muthalib kemudian tumbuh dan berkembang menjadi dewasa bersama pamannya.

Ada dua momentum besar bagi Abdul Muthalib yang berkaitan dengan Baitullah:

Pertama, penggalian sumur zam-zam.
    Abdul Muthalib bermimpi dirinya diperintahkan untuk menggali zam-zam dan dijelaskan kepadanya dimana letaknya, lantas dia melakukan penggalian dan menemukan di dalamnya benda terpendam yang dulu dikubur oleh suku Jurhum. Benda tersebut berupa pedang, tameng besi, dan dua pelana yang terbuat dari emas. Kemudian dia menempa pedang tersebut untuk membua pintu Kabah, dua pelana dia jadikan lempengan emas dan ditempelkan di pintu ktersebut. Ia juga memberi minum jamaah haji dengan air zam-zam.

Orang-orang Quraisy protes "izinkan kami bergabung!" Dia menjawab "Aku tidak akan melakukannya karena ini adalah hal khusus yang diberikan kepadaku." Mereka berselisih dan hendak menanyakan persoalan ini pada seroang dukun wanita. Namun ketika perjalanan kesana, bekal air habis lalu Allah menurunkan hujan untuk Abdul Muthalib saja. Mereka akhirnya mengetahui bahwa urusan zam-zam telah dikhususkan kepada Abdul Muthalib. Saat itulah Abdul Muthalib bernadzar jika Allah mengaruniakan 10 anak dan usia mereka baligh, dia akan menyembelih salah seorangnya di sisi Kabah.

Kedua, kedatangan Pasukan Gajah
Abrahah ash Shabbah, wakil umum Najasi atas negeri Yaman melihat orang Arab melakukan haji, dia bangun gereja di kota Shan'a. Tujuannya agar otang Arab mengalihkan hajinya kesana. Niat buruk ini di dengar oleh seorang yang berasal dari Bani Kinanah. Dia secara diam-diam mengendap-endap di malam hari dan menerobos masuk ke gereja tersebut, lalu melumuri kiblat mereka dengan kotoran. Meledaklah amarah Abrahah dan ia memerintahkan sebanyak 10.000 personil menuju Kabah untuk meluluhlantahkanya. Dia menunggangi gajah yang plaling besar. Akan tetapi baru mereka sampai di Wadi Mashsir (Lembah Majsir) yang berada di antara Muzdalifah dan Mina, tiba-tiba gajahnya berhenti dan duduk. Gajah ini tidak mau berdiri bila dikendalikan ke arah Kabah, tetapi apabila dikendalikan ke arah selatan, utara, atau timur, ia mau berjalan dan berlari kecil. Kemudian Allah mengirimkan ke atas mereka burung yang berbondong-bondong sembari melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar. Mereka seperti daun yang dimakan ulat . Burung tersebut semisal Khathatif (burung layang-layang) dab balasan (pohon murbey_. Setiap burung membawa 3 buah batu. Tidaklah lemparan tersebut mengenai seseorang melainkan akan menjadikan anggota badannya hancur dan binasa. Sedangkan Abrahah sendiri, Allah kirimkan padanya satu penyakit yang membuat sendi-sendi jarinya berjatuhan satu persatu. Peristiwa tragis ini terjadi pada bulan Muharram 50 hari atau 55 hari sebelum kelahiran nabi.



Silahkan simak di postingan selanjutnya :) 



Sumber:  Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri. Muhammad: Dari Kelahiran hingga detik-detik terakhir. (Jakarta : Darul Haq). hal 53-59.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar